MATHEMATIC
EVOLUSI ANGKA ARAB
AL-KHAWARIZMI
Profesor Badri Yatim, pernah mengatakan, jika menelusuri sejarah peradaban Islam, sama artinya membuka kembali lembaran-lembaran yang menggambarkan kemajuan yang pernah dicapai generasi muslim terdahulu. Salah satunya, merut guru besar sejarah UIN Ciputat itu adalah jika kita mengamati perkembangan angka Arab.
Konon, angka Arab, sebagai lambang bilangan, nyaris telah digunakan dalam hampir semua sistem aksara. Namun, angka Arab itu tidak seluruhnya diterima, hanya angka satu dan sembilan saja yang seutuhnya diterima. Angka dua dan tiga diterima dengan penyesuaian, yaitu dengan menidurkan angka aslinya hingga menjadi: 2 dan 3. Sedangkan angka 4,6,7,dan 8 dalam angka Arab asli sama sekali tidak digunakan.
Juga terjadi upaya pengubahan nilai. Yaitu, angka lima yang aslinya berupa bulatan bolong, diganti dengan tanda yang kita kenal sekarang (5), dan bulatan bolong itu kemudian dialihkan menjadi nilai nol. Mungkin ini dilakukan karena angka Arab nol menggunakan tanda berupa titik, yang dalam aksara latin bermakna lain.
Bangsa barat mengenal angka-angka arab, atau biasa disebut algoritma, nisbat bagi al-Khawarizmi, seorang Muslim pakar matematika, wafat sekitar tahun 230 M. Kata algoritma, yang disingkat augrim , bersumber dari buku-buku Al-Khawarizmi. Orang-orang Eropa saat itu terpengaruh oleh teori-teorinya yang brilian. Itu tampak dalam buku Karmen de Algorismo karya Alexander de Villa Die (1220 M), dan buku Algorismus Vulgaris karya John of Halifax (1250).
Buku al-Khawarizmi yang paling masyhur adalah Hisab al-Jabr wa-Muqabalah. Gerald of Cremona menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Latin, yang edisi Inggrisnya berjudul The Mathematics of Integration and Equations. Buku ini menjadi referensi utama di berbagai perguruan tinggi Eropa hingga abad ke-16 M.
Sejarah mencatat, dari zaman dulu hingga awal masa modern, sistem angka Arab hanya digunakan oleh para ahli matematika. Ilmuwan Muslim biasanya menggunakan sistem angka Babilonia, sedangkan kalangan pedagang memakai sistem angka Yunani dan Yahudi. Namun, setelah kemunculan buku Liber Abaci karya Fibonacci yang dibuat pada 1202 M, sistem angka dan penghitungan Arab pun dipakai secara luas. Sebenarnya, Fibonacci hanya menjadi ’penyambung lidah’ al-Khawarizmi yang juga dikenal sebagai ahli matematika, astronomi, dan geografi pada zamannya.
Dalam buku ini disebutkan, angka Arab sudah lama dipergunakan sebagai simbolisasi penomoran atau penghitungan. Sistem ini terdiri dari sepuluh angka, dengan bentuk berbeda-beda. Angka yang berada di sisi paling kiri, memiliki nilai paling tinggi. Pada perkembangan selanjutnya, sistem angka Arab ini memakai pula tanda desimal dan tanda pengkalian dua, penggasannya juga dibantu al-Khawarizmi. Dari waktu ke waktu, variasi pun kian bertambah.
Seperti sistem angka lainnya, angka 1,2 dan 3 ditunjukkan dengan penandaan sederhana. 1 ditandai dengan satu garis, 2 dengan dua garis (kini dihubungkan dengan diagonal), dan 3 dengan tiga garis (dihubungkan dengan dua garis vertikal). Setelah itu, angka berikutnya memakai simbol yang lebih kompleks. Para ahli memperkirakan, ini dikarenakan kian sulitnya menghitung objek yang lebih dari tiga.
Secara keseluruhan, sistem angka Arab terbagi atas dua kelompok angka, yaitu sistem angka Arab Barat (West Arabic Numerals). Sistem angka Arab Timur, banyak dipergunakan di wilayah Irak, yang biasa disebut dengan sistem Arabic-Indic. Arab-Indic Timur merupakan variasi lebih lanjut dari angka Arab Barat dipakai di Andalusia (Spanyol) dan kawasan Maghribi.
Sistem angka Arab diakui sebagai salah satu yang paling berpengaruh pada bidang matematika. Banyak ahli sejarah mengatakan bahwa angka tersebut barawal dari India. Terlebih, setelah orang Arab sendiri menyebut angka yang mereka gunakan itu sebagai ‘angka India’ atau arqam hindiyyah, yang kemudian ditransformasikan di dunia Islam sebelum menyebar luas melalui Afrika Utara, Spanyol, hingga akhirnya sampai ke Eropa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar